Sebuah awal dan akhir dari sepenggal kisah.
Setiap ada pertemuan, maka pasti akan ada perpisahan. Orang-orang akan datang dan pergi seiring dengan jalannya waktu. Pertemuan yang manis, akan membuahkan perpisahan yang manis juga. Namun terkadang ada beberapa orang mengalami pertemuan yang manis, tetapi dengan akhir yang menyakitkan. Dan membuahkan perpisaan yang menyedihkan. Lalu mereka hanya bisa menangis dan menyesali apa yang telah terjadi. Seperti aku...?Sabtu Malam,
24 January 2009
24 January 2009
Aku masih ingat saat itu. Saat pertama kali aku jadi miliknya. Saat dimana aku menjadi bagian dari kisah hidupnya. Waktu itu sedang gerimis. Aku terkejut meliht dia, tiba-tiba muncul di depan rumah ku. Dengan raut wajah yang sedikit pucat dan baju yang telah setengah basah terkena tetesan air hujan. Lalu dia berkata, "Bolehkah aku masuk...? aku sedikit kedinginan...!"
Kemudian aku persilahkan dia masuk. Aku pinjami dia sebuah handuk kecil dan ku suguhkan secangkir teh hangat, agar tubuhnya tak menggigil kedinginan lagi.
Lalu kami saling berbicara, hingga suasana menjadi hangat dan menghilangkan rasa dingin yang ada pada tubuhnya. Sampai pada saatnya dia mengatakan, "Aku mencintai mu, dan aku menyayangi mu. Aku...jatuh cinta padamu. Maukah kamu menjadi bagian dari kisah hidupku...?"
Lalu aku tatap matanya, ku lihat ada sebuah ketulusan di hatinya. Dan pada saat itu juga aku menerimanya. Ku anggukkan kepala sebagai tanda aku juga menyayanginya. Sebuah bahasa isyarat sederhana, yang mudah untuk dimengerti olehnya.
Kemudian aku persilahkan dia masuk. Aku pinjami dia sebuah handuk kecil dan ku suguhkan secangkir teh hangat, agar tubuhnya tak menggigil kedinginan lagi.
Lalu kami saling berbicara, hingga suasana menjadi hangat dan menghilangkan rasa dingin yang ada pada tubuhnya. Sampai pada saatnya dia mengatakan, "Aku mencintai mu, dan aku menyayangi mu. Aku...jatuh cinta padamu. Maukah kamu menjadi bagian dari kisah hidupku...?"
Lalu aku tatap matanya, ku lihat ada sebuah ketulusan di hatinya. Dan pada saat itu juga aku menerimanya. Ku anggukkan kepala sebagai tanda aku juga menyayanginya. Sebuah bahasa isyarat sederhana, yang mudah untuk dimengerti olehnya.
Semenjak itu ku mulai hari-hari ku berdua. Aku membiasakan diri dengan kata kami bukan aku. Aku mencoba tuk terbuka, dan menerimanya apa adanya.
Lalu sampai pada akhirnya, kemarin...
Rabu Malam,
24 Juni 2009
Rabu Malam,
24 Juni 2009
Dia menemui aku lagi, untuk yang kesekian kalinya. Lalu kami berbincang-bincang di teras depan rumah ku. Bersama-sama kami melihat indahnya bintang yang bertebaran di angkasa. Hingga pada saatnya dia berkata,"Sayang, aku harus pergi...!Aku tak mau mengecewakan kedua orangtuaku. Aku sayang kamu, tapi mereka orangtuaku. Aku ingin mengejar cita-citaku, demi mereka dan demi kamu juga. Sudah terlalu banyak mereka bersusah payah demi aku, dan tetesan peluhnya yang hanya untuk hidupku. Kini saatnya aku berbakti dan mendengarkan apa yang mereka inginkan. Aku ingin membuat mereka bangga telah membesarkan anak sepertiku. Aku sangat menyayangimu, dan ini akan berlaku untuk selamanya. Maafkan aku...!"
Aku hanya bisa terdiam dan membisu. Ingin ku katakan, "Jangan pergi!" Namun aku tak kuasa, aku tak sanggup, dan aku tak berdaya. Hingga sampai akhirnya dia benar-benar pergi dan tak pernah kembali sampe saat ini.
Aku hanya bisa terdiam dan membisu. Ingin ku katakan, "Jangan pergi!" Namun aku tak kuasa, aku tak sanggup, dan aku tak berdaya. Hingga sampai akhirnya dia benar-benar pergi dan tak pernah kembali sampe saat ini.
Masih teringat jelas di benakku saat-saat indah itu, saat-saat masih bersamanya. Namun itulah hidup, semuanya Tak Ada Yang Abadi, kecuali sang pencipta.
People life, People die
People laugh, people cry
Some give up, Some will try
Some say hi, Some say bye
Others may forget you,
But never will I.
Special for "my ex-bf"
People life, People die
People laugh, people cry
Some give up, Some will try
Some say hi, Some say bye
Others may forget you,
But never will I.
Special for "my ex-bf"
-001.jpg)
0 komentar:
Posting Komentar